Tanpa terasa masyarakat Islam menguat dengan sangat cepat. Di utara, di antara Syria dan Irak sekarang, masyarakat berbondong-bondong mengikuti Islam. Hal demikian semakin memerosotkan wibawa pemerintahan Romawi yang berkuasa di wilayah itu. Di jazirah Arab, justru tinggal masyarakat Mekah dn sekitarnya yang masih memusuhi Islam.
Namun, perubahan keadaan berlangsung dengan sangat cepat. Tanpa diduga, pihak Qurais melanggar perjanjian damai mereka dengan kaum Muslim. Bani Bakar yang berada di pihak Qurais, tiba-tiba menyerang Bani Khuza'a yang menurut perjanjian Hudaibiya berada di pihak muslim. Beberapa orang Khuza'a tewas. Hal itu dilaporkan oleh pemuka masyarakat setempat, Budail anak Warqa pada Muhammad di Madinah.
Abu Sofyan berupaya mencegah keberangkatan Budail. Namun terlambat. Ia juga berusaha menemui Muhammad di Madinah. Tapi, tak satupun orang di Madinah bersedia membantu itu. Ummu Habibia, putri Abu Sofyan yang telah memeluk Islam, pun menolak mempertemukan ayahnya itu dengan Sang Rasul. Pulanglah Abu Sofyan.
Perjanjian Hudaibiya telah batal. Sekarang tak ada lagi larangan bagi Muhammad untuk mengerahkan pasukannya mengepung Mekah. Itulah yang dilakukannya. Pasukan muslim disiagakan untuk perjalanan tersebut. Di tengah jalan, berbagai kabilah bergabung dengan mereka. Termasuk kabilah-kabilah dari Ghatafan yang dulu bersama Qurais hendak menggempur Madinah di Perang Khandaq. Diperkirakan jumlah pasukan itu mencapai 10 ribu orang.
Kaum Qurais masih berdebat ketika rombongan Muhammad hampir mencapai Mekah. Tak ada informasi apapun atas gerakan pasukan itu. Seorang muslim Madinah, Hatib bin Abu Balta'a, sempat membocorkan rencana tersebut lantaran tidak tega membayangkan nasib yang akan ditanggung para saudaranya di Mekah. Namun Ali dan Zubair dapat mengejar Sarah, perempuan yang dititipi surat tersebut.
Di dekat Mekah, di Maraz Zahran, rombongan Muhammad berhenti. Di sana, beberapa orang kerabatnya dari Bani Hasyim, mendatangi Muhammad dan menyatakan diri masuk Islam. Paman Muhammad, Abbas bin Abdul Muthalib, juga datang untuk mencegah terjadinya banjir darah. Abbas sempat mondar-mandir di antara kedua kubu, sebelum kemudian memergoki Abu Sufyan bin Harb. Pemimpin tertinggi Qurais itu lalu dibawanya pada Muhammad.
Malam itu Muhammad tidak menemui Abu Sufyan. Namun ia berpesan agar musuh besarnya tersebut dilindungi keselamatannya hingga pertemuan esok harinya. Dalam pertemuan itu, Muhammad berjanji untuk tidak memerangi Qurais. "Barangsiapa datang ke rumah Abu Sufyan, orang itu selamat. Barang Siapa menutup pintu rumahnya, orang itu selamat. Barangsiapa masuk ke dalam masjid (lingkungan ka'bah), orang itu selamat." Pada prinsipnya, siapa yang tidak mengangkat senjata pada kaum muslimin, mereka tidak akan diperangi.
Toh Muhammad tetap bersiaga seandainya pecah perang. Pasukan elit yang mengenakan pakaian serba hijau dan berbaju zirah telah mengelilingi Muhammad. Empat regu pasukan disiapkan. Masing-masing dipimpin oleh Khalid bin Walid, Zubair bin Awwam, Sa'ad bin Ubada serta Abu Ubaidah bin Jarrah. Mereka bersiap memasuki Mekah dari arah yang berbeda.
Sa'ad bin Ubada sempat berbuat keliru. Ketika memasuki Mekah, Sa'ad berteriak: "Hari ini adalah hari perang. Hari dibolehkannya segala yang terlarang..." Seruan yang bertolak belakang dengan janji Muhammad untuk memasuki Mekah secara damai. Muhammad segera merebut bendera komando dari tangan Sa'ad dan menyerahkannya pada Qais, anak Sa'ad yang sekalipun berbadan besar namun lembut hati.
Namun, dari arah belakang tiba-tiba pasukan Ikrima bin Abu Jahal tiba-tiba menyerang. Khalid menghadapi seranagn tersebut. Tiga belas orang Qurais tewas, sisanya -termasuk Ikrima-melarikan diri. Sementara itu, di Mekah tak setetes pun darah mengalir karena serbuan kaum Muslimin. Muhammad masuk Mekah dari Bukit Hind, tak jauh dari makam Khadijah, istrinya. Ia berhenti sebentar di kemah lengkung yang ada di situ, dan melepas pandangan ke seluruh penjuru Mekah. Rasul pergi ke ka'bah, menyentuh hajar aswad dan mengelilingi ka'bah untuk bertawaf. Rasul juga meminta Utsman bin Talha untuk membuka pintu ka'bah. Di pintu itu ia berdiri dan berkhutbah di hadapan hadirin.
Rasul, dalam khutbahnya, mengutip Quran surat Al-Hujurat ayat tiga belas. "Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikanmu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal. Sesungguhnya orang paling mulia di antaramu menurut pandangan Allah adalah yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengerti."
Ketika orang Qurais tengah menunggu-nunggu hukuman apa yang bakal dijatuhkan bagi mereka, Muhammad justru berkata: "Fadzhabu, faantumut-thulaqau". "Pergilah, kalian bebas sekarang." Tujuh belas orang tokoh yang dianggap paling makar telah dijatuhi hukuman mati. Namun mereka juga diampuni, termasuk Hindun, istri Abu Sufyan yang telah merobek dada serta memakan jantung Hamzah dalam perang Uhud. Hanya empat orang yang telanjur telah dieksekusi.
Muhammad kemudian meminta orang-orang untuk menyingkirkan patung-patung di sekitar ka'bah. Setelah itu, Bilal menyeru azab lima kali dalam sehari. Sejak itulah azan tak pernah berhenti berkumandang dari tempat yang kini menjadi Masjidil Haram di Mekah itu, sampai sekarang.n
Tuesday, March 27, 2007
PERANG HUNAIN..
Lima belas hari Muhammad berada di Mekah. Segala sesuatunya tampak berjalan lancar. Tapi, belum. Penyerahan warga Mekah tak diikuti masyarakat di sekitarnya. Orang-orang Hawazin dan Thaqif yang mendiami daerah yang lebih subur ketimbang Mekah, justru mengangkat senjata. Seorang pemuda berkharisma, Malik anak Auf, mengumpulkan seluruh kabilah yang ada.
Laki-laki, perempuan, anak-anak bahkan seluruh ternak dikumpulkannya di dataran Autas. Hawa perang dikobar-kobarkannya. Hal demikian sempat dikritik oleh seorang pejuang tua, Duraid. Namun semangat perang Malik tetap menggelegak. Tak ada satupun orang di lingkungannya yang mampu menahan kobaran semangat itu.
Muhammad telah mendengar ancaman dari Malik. Ia lalu mengumpulkan pasukannya. Kini mereka bukan hanya pasukan dari Madinah ditambah berbagai kabilah yang telah bergabung. Mereka diperkuat pula oleh tentara Qurais. Abu Sufyan, yang baru menyerah pada Muhammad, ikut serta di dalamnya. Mereka kemudian bergerak ke lembah Hunain. Jumlah pasukan itu ditaksir sekitar 12 ribu.
Saat itu, tampaknya pasukan Muslim terlampau percaya diri. Berhasil menaklukkan Mekah dengan mudah, membuat mereka kurang bersiaga pada jebakan lawan. Mereka berhasil memasuki lembah Hunain dengan aman, dan kini menyusur ke arah bawah menuju wadi di Tihama. Ketika fajar belum lagi merekah, tiba-tiba pasukan Malik bin Auf menghujani mereka dengan anak panah dari lereng-lereng bukit. Pasukan muslim berlarian menyelamatkan diri.
Orang-orang Qurais yang mengikuti ajaran Muhammad dengan setengah hati tertawa terkekeh-kekeh melihat kejadian tersebut. Mereka senang melihat orang-orang Madinah kena musibah. "Mereka tak akan berhenti lari sebelum sampai ke laut," Abu Sufyan.
Muhammad pun meneriaki pasukannya untuk berhenti. "Mau ke mana kalian? Mau ke mana?" seru Muhammad. Abbas yang bersuara lantang pun memanggil-manggil mereka. Suaranya bergema ke lembah-lembah perbukitan itu. "Marilah saudara-saudara, Muhammad masih hidup," serunya. Baru beberapa saat kemudian mereka kembali lagi. Pasukan pun diatur kembali.
Orang-orang Hawazin telah keluar dari tempat persembunyiannya untuk mengejar pasukan Muslim. Sebaliknya, pasukan Islam juga telah diorganisasikan kembali. Maka, pagi itu, perang pun pecah tanpa terelakkan lagi. Kali ini Hawazin kalah total. Mereka berlarian dengan meninggalkan 22 ribu unta dan 40 ribu kambing. Malik bin Auf lolos dalam peperangan ini. Ia mundur bersama orang-orang Hawazin, namun kemudian berbelok ke Ta'if, yang menjadi benteng orang-orang Thaqif.
Ta'if adalah tempat Muhammad pernah hijrah namun mendapat lemparan batu. Di tempat ini pula terdapat berhala yang sangat dipuja masyarakat Arab, setelah berhala-berhala di sekitar ka'bah. Muhammad lalu mengarahkan pasukannya untuk mengepung kota tersebut. Namun benteng Ta'if terlalu kuat. Beberapa orang Islam bahkan gugur terkena sambaran anak panah. Rasul kemudian memindahkan markasnya ke tempat yang tak dapat dijangkau dengan anak panah. Di sana Rasul mendirikan dua kemah merah, dan ia bersembahyang diantaranya. Di tempat tersebut kini berdiri masjid Ta'if.
Kepungan tak meruntuhkan Ta'if. Padahal, masa itu, Muhammad telah menggunakan beberapa teknik baru. Antara lain serangan dengan pelontar batu yang disebut 'manjaniq'. Dari beberapa orang Ta'if yang melarikan diri, Rasul tahu bahwa persediaan makanan di dalam benteng masih sangat banyak. Artinya, perlu waktu yang sangat lama untuk mengepung kota tersebut. Sementara itu, pasukan Islam mulai lelah. Apalagi, bulan suci mulai menjelang. Bulan yang di masa terdahulu maupun di masa Islam tak diizinkan sama sekali untuk berperang.
Rasul pun menarik pasukannya dari Ta'if. Pasukan itu bergerak menuju wilayah kaum Hawazin, dan meminta kabilah tersebut untuk menyerah. Masyarakat Hawazin menuntut Muhammad agar membebaskan para tawanan perang. Muhammad meluluskan permintaan itu. Pada mereka, Muhammad bahkan berpesan bahwa seandainya Malik bin Auf dan keluarganya menyerahkan diri dan bersedia memeluk Islam, ia akan mengembalikan harta mereka dan malah akan memberinya seratus unta. Di sini Muhammad menggunakan pendekatan baru, yakni merangkul musuh, untuk menyebarkan kebesaran Islam.
Namun tawaran Muhammad pada orang-orang Hawazin ini meresahkan pengikutnya sendiri, baik orang-orang Anshar maupun Muhajirin. Tak pernah mereka mendapatkan harta pampasan perang sebanyak kali ini. Mereka berharap akan mendapatkan bagian yang sangat besar dari pampasan tersebut. Janji Muhammad pada orang-orang Hawazin memupuskan harapan itu.
Namun Muhammad teguh pada sikapnya. Dengan sabar ia bicara pada para sahabatnya. Rasul menunjukkan bahwa tujuan perjuangannya selama ini bukanlah untuk menjadi kaya, melainkan untuk menyebarkan kebenaran. Para sahabat dapat memahami prinsip tersebut.
Dari Ji'rana di sebelah tenggara Mekah, Rasul pun berangkat untuk menunaikan ibadah umrah. Usai umrah, Muhammad menunjuk Attab bin Asid dan Mu'adh bin Jabal untuk tetap tinggal di Mekah. Keduanya ditugasi untuk mengajarkan Quran serta nilai-nilai Islam secara menyeluruh pada kaum Qurais. Muhammad dan rombongan besarnya lalu kembali ke Madinah.n
Laki-laki, perempuan, anak-anak bahkan seluruh ternak dikumpulkannya di dataran Autas. Hawa perang dikobar-kobarkannya. Hal demikian sempat dikritik oleh seorang pejuang tua, Duraid. Namun semangat perang Malik tetap menggelegak. Tak ada satupun orang di lingkungannya yang mampu menahan kobaran semangat itu.
Muhammad telah mendengar ancaman dari Malik. Ia lalu mengumpulkan pasukannya. Kini mereka bukan hanya pasukan dari Madinah ditambah berbagai kabilah yang telah bergabung. Mereka diperkuat pula oleh tentara Qurais. Abu Sufyan, yang baru menyerah pada Muhammad, ikut serta di dalamnya. Mereka kemudian bergerak ke lembah Hunain. Jumlah pasukan itu ditaksir sekitar 12 ribu.
Saat itu, tampaknya pasukan Muslim terlampau percaya diri. Berhasil menaklukkan Mekah dengan mudah, membuat mereka kurang bersiaga pada jebakan lawan. Mereka berhasil memasuki lembah Hunain dengan aman, dan kini menyusur ke arah bawah menuju wadi di Tihama. Ketika fajar belum lagi merekah, tiba-tiba pasukan Malik bin Auf menghujani mereka dengan anak panah dari lereng-lereng bukit. Pasukan muslim berlarian menyelamatkan diri.
Orang-orang Qurais yang mengikuti ajaran Muhammad dengan setengah hati tertawa terkekeh-kekeh melihat kejadian tersebut. Mereka senang melihat orang-orang Madinah kena musibah. "Mereka tak akan berhenti lari sebelum sampai ke laut," Abu Sufyan.
Muhammad pun meneriaki pasukannya untuk berhenti. "Mau ke mana kalian? Mau ke mana?" seru Muhammad. Abbas yang bersuara lantang pun memanggil-manggil mereka. Suaranya bergema ke lembah-lembah perbukitan itu. "Marilah saudara-saudara, Muhammad masih hidup," serunya. Baru beberapa saat kemudian mereka kembali lagi. Pasukan pun diatur kembali.
Orang-orang Hawazin telah keluar dari tempat persembunyiannya untuk mengejar pasukan Muslim. Sebaliknya, pasukan Islam juga telah diorganisasikan kembali. Maka, pagi itu, perang pun pecah tanpa terelakkan lagi. Kali ini Hawazin kalah total. Mereka berlarian dengan meninggalkan 22 ribu unta dan 40 ribu kambing. Malik bin Auf lolos dalam peperangan ini. Ia mundur bersama orang-orang Hawazin, namun kemudian berbelok ke Ta'if, yang menjadi benteng orang-orang Thaqif.
Ta'if adalah tempat Muhammad pernah hijrah namun mendapat lemparan batu. Di tempat ini pula terdapat berhala yang sangat dipuja masyarakat Arab, setelah berhala-berhala di sekitar ka'bah. Muhammad lalu mengarahkan pasukannya untuk mengepung kota tersebut. Namun benteng Ta'if terlalu kuat. Beberapa orang Islam bahkan gugur terkena sambaran anak panah. Rasul kemudian memindahkan markasnya ke tempat yang tak dapat dijangkau dengan anak panah. Di sana Rasul mendirikan dua kemah merah, dan ia bersembahyang diantaranya. Di tempat tersebut kini berdiri masjid Ta'if.
Kepungan tak meruntuhkan Ta'if. Padahal, masa itu, Muhammad telah menggunakan beberapa teknik baru. Antara lain serangan dengan pelontar batu yang disebut 'manjaniq'. Dari beberapa orang Ta'if yang melarikan diri, Rasul tahu bahwa persediaan makanan di dalam benteng masih sangat banyak. Artinya, perlu waktu yang sangat lama untuk mengepung kota tersebut. Sementara itu, pasukan Islam mulai lelah. Apalagi, bulan suci mulai menjelang. Bulan yang di masa terdahulu maupun di masa Islam tak diizinkan sama sekali untuk berperang.
Rasul pun menarik pasukannya dari Ta'if. Pasukan itu bergerak menuju wilayah kaum Hawazin, dan meminta kabilah tersebut untuk menyerah. Masyarakat Hawazin menuntut Muhammad agar membebaskan para tawanan perang. Muhammad meluluskan permintaan itu. Pada mereka, Muhammad bahkan berpesan bahwa seandainya Malik bin Auf dan keluarganya menyerahkan diri dan bersedia memeluk Islam, ia akan mengembalikan harta mereka dan malah akan memberinya seratus unta. Di sini Muhammad menggunakan pendekatan baru, yakni merangkul musuh, untuk menyebarkan kebesaran Islam.
Namun tawaran Muhammad pada orang-orang Hawazin ini meresahkan pengikutnya sendiri, baik orang-orang Anshar maupun Muhajirin. Tak pernah mereka mendapatkan harta pampasan perang sebanyak kali ini. Mereka berharap akan mendapatkan bagian yang sangat besar dari pampasan tersebut. Janji Muhammad pada orang-orang Hawazin memupuskan harapan itu.
Namun Muhammad teguh pada sikapnya. Dengan sabar ia bicara pada para sahabatnya. Rasul menunjukkan bahwa tujuan perjuangannya selama ini bukanlah untuk menjadi kaya, melainkan untuk menyebarkan kebenaran. Para sahabat dapat memahami prinsip tersebut.
Dari Ji'rana di sebelah tenggara Mekah, Rasul pun berangkat untuk menunaikan ibadah umrah. Usai umrah, Muhammad menunjuk Attab bin Asid dan Mu'adh bin Jabal untuk tetap tinggal di Mekah. Keduanya ditugasi untuk mengajarkan Quran serta nilai-nilai Islam secara menyeluruh pada kaum Qurais. Muhammad dan rombongan besarnya lalu kembali ke Madinah.n
EKSPEDISI TABUK..
Madinah telah tumbuh menjadi pusat pemerintahan yang utuh. Sepulang dari pembebasan Mekah, seiring dengan semakin banyaknya kabilah yang memeluk Islam, Muhammad pun mengenalkan ketentuan pajak dan zakat. Setiap Muslimin diwajibkan untuk mengeluarkan zakat 'usyr'. Yakni zakat hasil bumi sebesar 10 persen untuk pertanian beririgasi dan 20 persen untuk pertanian tadah hujan. Orang-orang Arab yang belum memeluk Islam diwajibkan membayar 'khazraj' atau pajak tanah.
Hampir seluruh masyarakat menerima baik ketentuan demikian. Hanya beberapa kelompok kecil yang menentang. Antara lain Bani Tamim. Salah satu puak di kelompok itu bahkan menyiapkan tombak untuk menyambut petugas pemungut pajak.
Rasulullah mengambil langkah tegas. Lima puluh orang pasukan berkuda yang dikomandoi Uyaina bin Hishn segera bergerak menggempur pembangkang pajak itu. Lebih dari 50 orang warga Bani Tamim -laki-laki, perempuan bahkan anak-anak, baik yang Muslim maupun yang masih jahiliyah-digiring ke Madinah untuk dipenjarakan.
Masyarakat Bani Tamim mengirim utusan pada Rasul, minta mereka dibebaskan. Diingatkannya bahwa sebagian tahanan itu adalah orang-orang yang telah menyertai Muhammad dalam pembebasan Mekah dan Perang Hunain. Namun Muhammad tidak memberi keringanan apapun pada mereka. Baru setelah mereka menyerah dan kemudian masuk Islam seluruhnya, Rasul membebaskan seluruh tahanan itu.
Sikap keras juga ditujukan pada orang-orang munafik. Semakin banyaknya pemeluk Islam, semakin banyak pula jumlah orang-orang munafik. Secara resmi mereka memeluk Islam, namun terus berupaya menggerogoti kewibawaan Islam. Sikap keras itu ditunjukkan Rasul dalam persiapan ekspedisi Tabuk. Saat itu, tersiar kabar bahwa Romawi tengah menyiapkan pasukan untuk menggempur kekuatan Islam. Rasul kemudian menyeru kaum Muslimin untuk bersiap menghadapi Romawi.
Beberapa orang munafik mencari-cari alasan untuk tidak ikut berperang melawan Romawi. Muhammad tidak mendesak mereka untuk pergi, melainkan malah memintanya untuk tetap di Madinah. Ketika Abdullah bin Ubay menyusun pasukan sendiri untuk ikut ekspedisi, Rasul juga menolak. Ketika itu orang-orang munafik juga membangun masjid dan meminta Muhammad meresmikannya.
Ketika itu Muhammad meminta mereka menunda peresmian tersebut. Namun sepulang dari Tabuk, Nabi bahkan menugasi sahabat untuk membakar masjid tersebut, yang kemudian dikenal sebagai "masjid dhirar". Yakni masjid yang dibangun bukan untuk tujuan sesungguhnya, melainkan untuk tempat memecah belah umat. Terbukti bahwa orang-orang menggunakan masjid tersebut untuk tempat berkumpul, bergosip, mencari-cari kesalahan umat Islam sendiri.
Perhatian Muhammad kemudian tersita terhadap ancaman Romawi. Ia menggalang kekuatan yang melibatkan sekitar 30 ribu prajurit. Masih banyak lagi yang ingin bergabung. Namun Muhammad menolak mereka lantaran terbatasnya jumlah unta dan kuda yang dimiliki. Padahal orang-orang kaya menyerahkan sebagian besar hartanya untuk ekspedisi tersebut. Di antaranya adalah Usman Bin Affan. Ratusan orang menangis karena tak dapat mengikuti perjalanan tersebut.
Dalam usia sekitar 60 tahun, Muhammad masih memimpin sendiri pasukan menuju ke arah Syam. Mereka sempat beristirahat di Tsamud, wilayah yang di masa silam telah dihancurkan Allah karena keingkaran warganya terhadap Nabi Allah. Pasukan kemudian melanjutkan perjalanan ke Tabuk -tempat ayang diyakini bakal menjadi ajang perang besar melawan Romawi. Namun ternyata Romawi teklah menarik pasukannya.
Di Tabuk, Muhammad sempat menjalin perjanjian dengan penguasa Alia yang beragama Nasrani, Yohanna bin Ru'ba. Yohanna menjanjikan bahwa wilayahnya akan mengikuti ketentuan yang berlaku bagi wilayah-wilayah lain yang juga tunduk pada Muhammad. Pada Yohanna, Muhammad memberikan cindera mata berupa mantel tenunan dari Yaman.
Sementara itu, Khalid bin Walid dan 500 pasukannya melanjutkan misi ke Duma, wilayah garis depan kekuasaan Romawi. Mereka berhasil menyergap pemimpin Duma, Ukaidir. Ukaidir lalu dibawa ke Madinah menyusul Muhammad yang telah pulang dari Tabuk. Ia datang mengenakan baju sutera berumbai emas, dan diiringi 2000 ekor unta dan 800 ekor kambing. Warga Madinah ternganga melihat penampilan Ukaidir. Pemimpin Duma itu kemudian juga masuk Islam.
Kemenangan besar telah diraih. Namun Rasulullah menerima cobaan. Anak laki-laki yang sangat disayanginya, Ibrahim, jatuh sakit dan kemudian meninggal. Muhammad bercucurkan air mata sampai ia diingatkan para sahabat bukankah ia sendiri melarang bersedih karena kematian. Muhammad lalu menjawab bahwa yang dilarang bukanlah berduka cita, melainkan "menangis (untuk musibah) dengan suara keras".n
Hampir seluruh masyarakat menerima baik ketentuan demikian. Hanya beberapa kelompok kecil yang menentang. Antara lain Bani Tamim. Salah satu puak di kelompok itu bahkan menyiapkan tombak untuk menyambut petugas pemungut pajak.
Rasulullah mengambil langkah tegas. Lima puluh orang pasukan berkuda yang dikomandoi Uyaina bin Hishn segera bergerak menggempur pembangkang pajak itu. Lebih dari 50 orang warga Bani Tamim -laki-laki, perempuan bahkan anak-anak, baik yang Muslim maupun yang masih jahiliyah-digiring ke Madinah untuk dipenjarakan.
Masyarakat Bani Tamim mengirim utusan pada Rasul, minta mereka dibebaskan. Diingatkannya bahwa sebagian tahanan itu adalah orang-orang yang telah menyertai Muhammad dalam pembebasan Mekah dan Perang Hunain. Namun Muhammad tidak memberi keringanan apapun pada mereka. Baru setelah mereka menyerah dan kemudian masuk Islam seluruhnya, Rasul membebaskan seluruh tahanan itu.
Sikap keras juga ditujukan pada orang-orang munafik. Semakin banyaknya pemeluk Islam, semakin banyak pula jumlah orang-orang munafik. Secara resmi mereka memeluk Islam, namun terus berupaya menggerogoti kewibawaan Islam. Sikap keras itu ditunjukkan Rasul dalam persiapan ekspedisi Tabuk. Saat itu, tersiar kabar bahwa Romawi tengah menyiapkan pasukan untuk menggempur kekuatan Islam. Rasul kemudian menyeru kaum Muslimin untuk bersiap menghadapi Romawi.
Beberapa orang munafik mencari-cari alasan untuk tidak ikut berperang melawan Romawi. Muhammad tidak mendesak mereka untuk pergi, melainkan malah memintanya untuk tetap di Madinah. Ketika Abdullah bin Ubay menyusun pasukan sendiri untuk ikut ekspedisi, Rasul juga menolak. Ketika itu orang-orang munafik juga membangun masjid dan meminta Muhammad meresmikannya.
Ketika itu Muhammad meminta mereka menunda peresmian tersebut. Namun sepulang dari Tabuk, Nabi bahkan menugasi sahabat untuk membakar masjid tersebut, yang kemudian dikenal sebagai "masjid dhirar". Yakni masjid yang dibangun bukan untuk tujuan sesungguhnya, melainkan untuk tempat memecah belah umat. Terbukti bahwa orang-orang menggunakan masjid tersebut untuk tempat berkumpul, bergosip, mencari-cari kesalahan umat Islam sendiri.
Perhatian Muhammad kemudian tersita terhadap ancaman Romawi. Ia menggalang kekuatan yang melibatkan sekitar 30 ribu prajurit. Masih banyak lagi yang ingin bergabung. Namun Muhammad menolak mereka lantaran terbatasnya jumlah unta dan kuda yang dimiliki. Padahal orang-orang kaya menyerahkan sebagian besar hartanya untuk ekspedisi tersebut. Di antaranya adalah Usman Bin Affan. Ratusan orang menangis karena tak dapat mengikuti perjalanan tersebut.
Dalam usia sekitar 60 tahun, Muhammad masih memimpin sendiri pasukan menuju ke arah Syam. Mereka sempat beristirahat di Tsamud, wilayah yang di masa silam telah dihancurkan Allah karena keingkaran warganya terhadap Nabi Allah. Pasukan kemudian melanjutkan perjalanan ke Tabuk -tempat ayang diyakini bakal menjadi ajang perang besar melawan Romawi. Namun ternyata Romawi teklah menarik pasukannya.
Di Tabuk, Muhammad sempat menjalin perjanjian dengan penguasa Alia yang beragama Nasrani, Yohanna bin Ru'ba. Yohanna menjanjikan bahwa wilayahnya akan mengikuti ketentuan yang berlaku bagi wilayah-wilayah lain yang juga tunduk pada Muhammad. Pada Yohanna, Muhammad memberikan cindera mata berupa mantel tenunan dari Yaman.
Sementara itu, Khalid bin Walid dan 500 pasukannya melanjutkan misi ke Duma, wilayah garis depan kekuasaan Romawi. Mereka berhasil menyergap pemimpin Duma, Ukaidir. Ukaidir lalu dibawa ke Madinah menyusul Muhammad yang telah pulang dari Tabuk. Ia datang mengenakan baju sutera berumbai emas, dan diiringi 2000 ekor unta dan 800 ekor kambing. Warga Madinah ternganga melihat penampilan Ukaidir. Pemimpin Duma itu kemudian juga masuk Islam.
Kemenangan besar telah diraih. Namun Rasulullah menerima cobaan. Anak laki-laki yang sangat disayanginya, Ibrahim, jatuh sakit dan kemudian meninggal. Muhammad bercucurkan air mata sampai ia diingatkan para sahabat bukankah ia sendiri melarang bersedih karena kematian. Muhammad lalu menjawab bahwa yang dilarang bukanlah berduka cita, melainkan "menangis (untuk musibah) dengan suara keras".n
TAHUN2 TERAKHIR..
Tak ada perang di Tabuk. Darah tidak ditumpahkan. Namun ekspedisi itu telah meninggalkan kesan mendalam di seluruh jazirah Arab. Keengganan Romawi untuk menghadapi tentara Muslim menjadikan pasukan Muhammad sebagai satu-satunya kekuatan nyata di jazirah itu. "Romawi telah mengalahkan Persia. Mereka telah merebut kembali Salib Besar dan membawanya balik ke Yerusalem. Tapi Romawi takut pada tentara Muhammad." Demikian yang ada di benak kabilah-kabilah.
Maka, setelah ekspedisi Tabuk, kabilah demi kabilah berdatangan ke Madinah. Mereka menjumpai Muhammad buat mengucapkan dua kalimat syahadat. Demikian juga tokoh-tokoh perorangan. Di antaranya adalah Urwa bin Mas'ud, tokoh masyarakat Thaqif. Ketika masyarakatnya bertempur di Hunain dan Ta'if melawan pasukan Rasul, Urwa sedang berada di Yaman. Ia menyesali sikap masyarakatnya yang menolak Islam. Maka, sepulang dari Yaman, Urwa segera menemui Rasul.
Usai itu, Urwa pamit untuk pulang ke Ta'if. Ia berjanji akan membawa masyarakatnya untuk mengikuti jalan Allah. Rasul sempat mengingatkan Urwa agar berhati-hati lantaran masyarakat Thaqif sangat fanatik pada berhala yang diberi nama Lath. Rasul benar. Urwa mengajak masyarakatnya untuk salat, namun mereka malah membalasnya dengan menghujani anak panah. Urwa wafat.
Menjelang menghembuskan nafas terakhirnya, Urwa sempat berkata: "Kehormatan telah diberikan Tuhan kepadaku, Kesaksian Tuhan telah dilimpahkan kepadaku. Yang kualami ini sama dengan yang dialami para syhada yang berjuang di samping Rasulullah saw sebelum meninggalkan kita." Pembunuhan terhadap Urwa justru meresahkan masyarakatnya sendiri. Mereka menjadi merasa tidak aman. Hampir seluruh kabilah di sekeliling sekarang telah mengikuti seruan Muhammad. Enam orang pemuka Thaqif kemudian menemui Muhammad dengan sangat cemas. Mereka khawatir atas balasan pihak Islam. Namun tidak. Muhammad memperlakukan mereka dengan baik.
Namun Muhammad tetap bersikap tegas terhadap tawaran yang mereka ajukan. Muhammad menolak permintaan agar orang-orang Ta'if dibolehkan untuk tidak menghancurkan patung Lath. Juga agar mereka dibebaskan dari kewajiban salat. "Sungguh tidak ada kebaikan dalam agama bila tanpa salat," kata Rasul. Satu-satunya permintaan yang dipenuhi hanyalah agar Lath dihancurkan oleh orang lain, dan bukan oleh tangan orang-orang Ta'if sendiri.
Abu Sufyan dan Mughira diminta Muhammad untuk melaksanakan tugas itu. Para pertempuan Thaqif menangis saat Lath dihancurkan. Seluruh perhiasan yang menempel pada Lath diambil, dipakai untuk membayar utang Urwa dan Aswad. Kini habislah kekuatan Arab yang memusuhi Islam.
Rasulullah terus bekerja untuk memantapkan keislaman masyarakat. Saat ibadah haji tiba, Rasul juga tidak berangkat ke Mekah. Ia justru menugasi Abu Bakar untuk memimpin 300 orang jamaah. Rombongan itu telah berangkat ketika Rasulullah minta Ali bin Abu Thalib pergi menyusul. Ketika seluruh jamaah, baik yang Islam maupun orang-orang yang masih jahiliyah yang datang dari seluruh penjuru jazirah Arab, berkumpul di Mina, Ali pun berdiri untuk pidato.
Dibacakannya ayat-ayat Qur'an surat At-Taubah, dari ayat 1 hingga 36. Pada prinsipnya, Ali menekankan empat hal. Pertama, seorang kafir tidak akan masuk surga. Kedua, setelah tahun itu "orang-orang musyrik" tidak dibolehkan menunaikan ibadah haji. Ketiga, tak boleh lagi melakukan tawaf dengan telanjang -sebuah praktek yang banyak terjadi sebelum masa Islam. Keempat, ikatan perjanjian dengan Rasulullah terus berlaku. Penegasan Rasul yang disampaikan Ali ini mengawali masa pengkhususan untuk memasuki Mekah -apalagi wilayah ka'bah-hanya untuk orang Islam.
Sementara itu, di Madinah, kabilah demi kabilah mengirimkan utusannya untuk menemui Muhammad. Tak pernah rasul menerima tamu sebanyak pada tahun-tahun terakhir. Utusan-utusan tersebut seluruhnya menyatakan bahwa kabilahnya telah menerima Islam sebagai agama yang utuh. Haekal menyebut bahwa Ibnu Sa'ad telah menulis masalah perutusan ini secara khusus dalam bukunya 'At-tabakatul Kubra'. Begitu banyaknya utusan tersebut, sehingga Ibnu Sa'ad menghabiskan 50 halaman.
Namun, pada masa itu, Islam juga menghadapi tantangan baru. Yakni semakin banyaknya orang-orang munafik. Pada tahun-tahun itu, mencuat nama Musailama. Kemana-mana ia bahkan menyatakan diri sebagai Rasul. Ia mengarang syair-syair yang didakwakannya sebagai wahyu Tuhan. Di masa sekarang, apalagi abad-abad depan, Islam akan selalu berhadapan dengan Musailama-Musailama baru yang lebih lihai yang juga menyebut diri "membawa kebenaran" .n
Maka, setelah ekspedisi Tabuk, kabilah demi kabilah berdatangan ke Madinah. Mereka menjumpai Muhammad buat mengucapkan dua kalimat syahadat. Demikian juga tokoh-tokoh perorangan. Di antaranya adalah Urwa bin Mas'ud, tokoh masyarakat Thaqif. Ketika masyarakatnya bertempur di Hunain dan Ta'if melawan pasukan Rasul, Urwa sedang berada di Yaman. Ia menyesali sikap masyarakatnya yang menolak Islam. Maka, sepulang dari Yaman, Urwa segera menemui Rasul.
Usai itu, Urwa pamit untuk pulang ke Ta'if. Ia berjanji akan membawa masyarakatnya untuk mengikuti jalan Allah. Rasul sempat mengingatkan Urwa agar berhati-hati lantaran masyarakat Thaqif sangat fanatik pada berhala yang diberi nama Lath. Rasul benar. Urwa mengajak masyarakatnya untuk salat, namun mereka malah membalasnya dengan menghujani anak panah. Urwa wafat.
Menjelang menghembuskan nafas terakhirnya, Urwa sempat berkata: "Kehormatan telah diberikan Tuhan kepadaku, Kesaksian Tuhan telah dilimpahkan kepadaku. Yang kualami ini sama dengan yang dialami para syhada yang berjuang di samping Rasulullah saw sebelum meninggalkan kita." Pembunuhan terhadap Urwa justru meresahkan masyarakatnya sendiri. Mereka menjadi merasa tidak aman. Hampir seluruh kabilah di sekeliling sekarang telah mengikuti seruan Muhammad. Enam orang pemuka Thaqif kemudian menemui Muhammad dengan sangat cemas. Mereka khawatir atas balasan pihak Islam. Namun tidak. Muhammad memperlakukan mereka dengan baik.
Namun Muhammad tetap bersikap tegas terhadap tawaran yang mereka ajukan. Muhammad menolak permintaan agar orang-orang Ta'if dibolehkan untuk tidak menghancurkan patung Lath. Juga agar mereka dibebaskan dari kewajiban salat. "Sungguh tidak ada kebaikan dalam agama bila tanpa salat," kata Rasul. Satu-satunya permintaan yang dipenuhi hanyalah agar Lath dihancurkan oleh orang lain, dan bukan oleh tangan orang-orang Ta'if sendiri.
Abu Sufyan dan Mughira diminta Muhammad untuk melaksanakan tugas itu. Para pertempuan Thaqif menangis saat Lath dihancurkan. Seluruh perhiasan yang menempel pada Lath diambil, dipakai untuk membayar utang Urwa dan Aswad. Kini habislah kekuatan Arab yang memusuhi Islam.
Rasulullah terus bekerja untuk memantapkan keislaman masyarakat. Saat ibadah haji tiba, Rasul juga tidak berangkat ke Mekah. Ia justru menugasi Abu Bakar untuk memimpin 300 orang jamaah. Rombongan itu telah berangkat ketika Rasulullah minta Ali bin Abu Thalib pergi menyusul. Ketika seluruh jamaah, baik yang Islam maupun orang-orang yang masih jahiliyah yang datang dari seluruh penjuru jazirah Arab, berkumpul di Mina, Ali pun berdiri untuk pidato.
Dibacakannya ayat-ayat Qur'an surat At-Taubah, dari ayat 1 hingga 36. Pada prinsipnya, Ali menekankan empat hal. Pertama, seorang kafir tidak akan masuk surga. Kedua, setelah tahun itu "orang-orang musyrik" tidak dibolehkan menunaikan ibadah haji. Ketiga, tak boleh lagi melakukan tawaf dengan telanjang -sebuah praktek yang banyak terjadi sebelum masa Islam. Keempat, ikatan perjanjian dengan Rasulullah terus berlaku. Penegasan Rasul yang disampaikan Ali ini mengawali masa pengkhususan untuk memasuki Mekah -apalagi wilayah ka'bah-hanya untuk orang Islam.
Sementara itu, di Madinah, kabilah demi kabilah mengirimkan utusannya untuk menemui Muhammad. Tak pernah rasul menerima tamu sebanyak pada tahun-tahun terakhir. Utusan-utusan tersebut seluruhnya menyatakan bahwa kabilahnya telah menerima Islam sebagai agama yang utuh. Haekal menyebut bahwa Ibnu Sa'ad telah menulis masalah perutusan ini secara khusus dalam bukunya 'At-tabakatul Kubra'. Begitu banyaknya utusan tersebut, sehingga Ibnu Sa'ad menghabiskan 50 halaman.
Namun, pada masa itu, Islam juga menghadapi tantangan baru. Yakni semakin banyaknya orang-orang munafik. Pada tahun-tahun itu, mencuat nama Musailama. Kemana-mana ia bahkan menyatakan diri sebagai Rasul. Ia mengarang syair-syair yang didakwakannya sebagai wahyu Tuhan. Di masa sekarang, apalagi abad-abad depan, Islam akan selalu berhadapan dengan Musailama-Musailama baru yang lebih lihai yang juga menyebut diri "membawa kebenaran" .n
HAJI WADA'
Tonggak-tonggak masyarakat Islam telah ditegakkan. Satu - dua rombongan misi masih dikirimkan Rasulullah. Termasuk misi 300 orang yang dipimpin Ali bin Abu Thalib, ke Yaman. Sekarang Rasulullah lebih bisa berkonsentrasi menata masyarakat Islam dari Madinah.
Waktu telah mengantarkan Rasul ke tahun ke-10 Hijriah. Mendekati bulan haji, terpikir oleh Muhammad untuk menunaikan ibadah haji besar. Rasul sudah dua kali menunaikan ibadah umrah, yang juga disebut haji kecil. Namun Rasul belum pernah menunaikan ibadah haji besar. Kini, waktu untuk melakukan ibadah tersebut tiba.
Muhammad pun mengumumkan rencananya untuk berhaji itu. Rencana tersebut segera menyebar ke seluruh jazirah Arab. Mendengar kabar itu, orang-orang dari berbagai pelosok berduyun datang ke Madinah. Mereka ingin menunaikan ibadah haji bersama Rasul. Puluhan ribu tenda didirikan di sekitar kota Madinah. Kerlap-kerlip cahaya iman menjadikan Madinah terasa sangat indah.
Pada tanggal 25 Dzulkaidah, Rasulullah beranjak meninggalkan Madinah. Seluruh anggota keluarga ia bawa serta. Bersama mereka adalah puluhan ribu jamaah lainnya. Ada yang menyebut 90.000 orang. Ada yang mengatakannya 114.000 ribu. Berapapun, mereka adalah rombongan terbesar yang pernah ada yang melintasi terik sahara secara bersama.
Di Dhul Hulaifa, rombongan beristirahat semalam. Esok harinya, Nabi berganti pakaian dengan mengenakan kain ihram. Demikian pula orang-orang Muslim lainnya. Mereka kemudian bergerak lagi ke arah Mekah. Seruan talbiah ('labbaika Allahumma labbaika.....') tak putus-putusnya dialunkan. Sungguh bagai sebuah pentas drama luar biasa di alam nyata. Hampir seratus ribu bergerak bersama dalam seragam putih-putih sederhana menyusuri gurun pasir dan lembah pebukitan. Suara mereka bersahut-sahutan membahana, memenuhi seluruh ruang yang ada di perjalanan itu.
Pada hari keempat, mereka tiba di Mekah. Rasulullah menuju ka'bah, puluhan ribu orang itu menuju ka'bah. Rasul menyentuh dan mencium hajar aswad, puluhan ribu orang itu menyentuh dan mencium hajar aswad. Rasul bertawaf berlari kecil mengelilingi ka'bah, puluhan ribu orang itu bertawaf. Demikian seterusnya. Sampai rasul salat di maqam Ibrahim, kembali mencium hajar aswad, lalu ber-sa'i antara bukit Shafa dan Marwa. Usai sa'i, Rasul memerintahkan orang-orang yang tak membawa hewan kurban agar melepaskan pakaian ihramnya.
Dari Yaman, rombongan Ali kemudian bergabung dengan Rasul di Mekah. Mereka tinggal di kota itu sampai Hari Tarwiyah, yakni tanggal 8 Zulhijah. Hari itu, Muhammad dan rombongan pergi ke Mina. Di sana, Rasul terus berada di dalam kemah, termasuk ketika melaksanakan salat. Esoknya, usai salat subuh, Rasul bersiap untuk berangkat menuju Arafah. Pagi itu pula, Muhammad bergerak menuju Namira dan terus beristirahat di sana.
Mendekati siang, Rasul kembali meminta untanya, Al-Qashwa. Ia berjalan menuju ke tengah wadi di daerah 'Urana-Arafah. Dari atas untanya itu, Rasul menyerukan khutbahnya yang terkenal tersebut. Kata-katanya sangat jelas. Pada setiap kalimat, Muhammad berhenti sejenak. Rabi'a bin Umayya, mengulang kata-kata itu, dengan suara lantang sehingga isi khutbah didengar oleh semua jamaah.
Muhammad menutup khutbahnya dengan berkata: "Ya Allah, sudah kusampaikan!" Serentak jamaah pun menjawab: "Benar". Lalu Muhammad menambahkannya: "Ya Allah, saksikan ini."
Rasul pun turun dari untanya. Ia terus di sana sampai waktu sembahyang dzuhur dan asar. Setelah itu, ia menaiki untanya kembali menuju Sakharat. Di sana, Muhammad membacakan firman Allah, Surat Al-Maidah ayat 3: "Hari ini, Kusempurnakan bagimu semua agamamu ini, dan Kucukupkan nikmat-Ku padamu, serta Kuridhoi Islam sebagai agamamu."
Abu Bakar menangis mendengar ayat tersebut. Inilah isyarat bahwa risalah Rasul telah tuntas. Malam itu, Rasul meninggalkan Arafah dan menginap di Muzdalifa. Pagi hari ia turun ke Masyaril Haram, kemudian ke Mina untuk melemparkan kerikil ke Jumrah. Di kemah, Rasulullah menyembelih 63 ekor unta -jumlah yang sebanyak tahun usianya. Muhammad kemudian mencukur rambutnya, mengakhiri ibadah haji ini. Satu-satunya ibadah haji besar yang dilakukannya.n
Waktu telah mengantarkan Rasul ke tahun ke-10 Hijriah. Mendekati bulan haji, terpikir oleh Muhammad untuk menunaikan ibadah haji besar. Rasul sudah dua kali menunaikan ibadah umrah, yang juga disebut haji kecil. Namun Rasul belum pernah menunaikan ibadah haji besar. Kini, waktu untuk melakukan ibadah tersebut tiba.
Muhammad pun mengumumkan rencananya untuk berhaji itu. Rencana tersebut segera menyebar ke seluruh jazirah Arab. Mendengar kabar itu, orang-orang dari berbagai pelosok berduyun datang ke Madinah. Mereka ingin menunaikan ibadah haji bersama Rasul. Puluhan ribu tenda didirikan di sekitar kota Madinah. Kerlap-kerlip cahaya iman menjadikan Madinah terasa sangat indah.
Pada tanggal 25 Dzulkaidah, Rasulullah beranjak meninggalkan Madinah. Seluruh anggota keluarga ia bawa serta. Bersama mereka adalah puluhan ribu jamaah lainnya. Ada yang menyebut 90.000 orang. Ada yang mengatakannya 114.000 ribu. Berapapun, mereka adalah rombongan terbesar yang pernah ada yang melintasi terik sahara secara bersama.
Di Dhul Hulaifa, rombongan beristirahat semalam. Esok harinya, Nabi berganti pakaian dengan mengenakan kain ihram. Demikian pula orang-orang Muslim lainnya. Mereka kemudian bergerak lagi ke arah Mekah. Seruan talbiah ('labbaika Allahumma labbaika.....') tak putus-putusnya dialunkan. Sungguh bagai sebuah pentas drama luar biasa di alam nyata. Hampir seratus ribu bergerak bersama dalam seragam putih-putih sederhana menyusuri gurun pasir dan lembah pebukitan. Suara mereka bersahut-sahutan membahana, memenuhi seluruh ruang yang ada di perjalanan itu.
Pada hari keempat, mereka tiba di Mekah. Rasulullah menuju ka'bah, puluhan ribu orang itu menuju ka'bah. Rasul menyentuh dan mencium hajar aswad, puluhan ribu orang itu menyentuh dan mencium hajar aswad. Rasul bertawaf berlari kecil mengelilingi ka'bah, puluhan ribu orang itu bertawaf. Demikian seterusnya. Sampai rasul salat di maqam Ibrahim, kembali mencium hajar aswad, lalu ber-sa'i antara bukit Shafa dan Marwa. Usai sa'i, Rasul memerintahkan orang-orang yang tak membawa hewan kurban agar melepaskan pakaian ihramnya.
Dari Yaman, rombongan Ali kemudian bergabung dengan Rasul di Mekah. Mereka tinggal di kota itu sampai Hari Tarwiyah, yakni tanggal 8 Zulhijah. Hari itu, Muhammad dan rombongan pergi ke Mina. Di sana, Rasul terus berada di dalam kemah, termasuk ketika melaksanakan salat. Esoknya, usai salat subuh, Rasul bersiap untuk berangkat menuju Arafah. Pagi itu pula, Muhammad bergerak menuju Namira dan terus beristirahat di sana.
Mendekati siang, Rasul kembali meminta untanya, Al-Qashwa. Ia berjalan menuju ke tengah wadi di daerah 'Urana-Arafah. Dari atas untanya itu, Rasul menyerukan khutbahnya yang terkenal tersebut. Kata-katanya sangat jelas. Pada setiap kalimat, Muhammad berhenti sejenak. Rabi'a bin Umayya, mengulang kata-kata itu, dengan suara lantang sehingga isi khutbah didengar oleh semua jamaah.
Muhammad menutup khutbahnya dengan berkata: "Ya Allah, sudah kusampaikan!" Serentak jamaah pun menjawab: "Benar". Lalu Muhammad menambahkannya: "Ya Allah, saksikan ini."
Rasul pun turun dari untanya. Ia terus di sana sampai waktu sembahyang dzuhur dan asar. Setelah itu, ia menaiki untanya kembali menuju Sakharat. Di sana, Muhammad membacakan firman Allah, Surat Al-Maidah ayat 3: "Hari ini, Kusempurnakan bagimu semua agamamu ini, dan Kucukupkan nikmat-Ku padamu, serta Kuridhoi Islam sebagai agamamu."
Abu Bakar menangis mendengar ayat tersebut. Inilah isyarat bahwa risalah Rasul telah tuntas. Malam itu, Rasul meninggalkan Arafah dan menginap di Muzdalifa. Pagi hari ia turun ke Masyaril Haram, kemudian ke Mina untuk melemparkan kerikil ke Jumrah. Di kemah, Rasulullah menyembelih 63 ekor unta -jumlah yang sebanyak tahun usianya. Muhammad kemudian mencukur rambutnya, mengakhiri ibadah haji ini. Satu-satunya ibadah haji besar yang dilakukannya.n
KEWAFATAN NABI...
Wafat
Syam. Wilayah ini tampaknya mempunyai tempat yang khusus di hati Rasulullah. Sewaktu kecil, ia pernah dibawa pamannya --Abu Thalib-untuk berdagang ke daerah tersebut. Di waktu muda, ia pernah pergi ke sana untuk menjadi manajer misi dagang milik Khadijah. Setelah menjadi Rasul, ia juga pernah memimpin ekspedisi militer terbesar yang mengarah ke Syam, yakni ekspedisi Tabuk. Kini terpikir kembali oleh Rasul untuk kembali mengirim ekspedisi ke Palestina dan Syam.
Para sahabat pilihan telah ditunjuk Rasul. Ia juga telah mengangkat Usama putra Zaid bin Haritha --anak angkat Rasul yang gugur di pertempuran Mu'ta-untuk menjadi komandan. Sebuah keputusan kontroversial masa itu, karena Usama belum berusia 20 tahun.
Seluruh perlengkapan sudah disiapkan. Kuda-kuda telah siap dipacu. Tiba-tiba Rasulullah jatuh sakit. Terkisahkan bahwa dalam sakitnya, Rasul sulit untuk tidur. Tengah malam, ia lalu keluar rumah dengn ditemani oleh pembantunya, Abu Muwayba. Rasul -menurut kisah ini-pergi ke Baqi' Gharqad, pemakaman muslim di Madinah. Di sana Rasul berdoa untuk orang-orang yang telah wafat, dan seperti berbicara pada para ahli kubur.
Demam Rasul semakin hari semakin bertambah. Namun ia mencoba tetap melakukan aktivitas biasa. Beberapa kisah menyebut bahwa Rasul masih bercanda dengan istrinya, Aisyah, di saat sakit. Namun suatu hari, ketika Muhammad di rumah Maimunah, serangan demam menguat. Muhammad tak dapat berbuat apapun selain berbaring. Ia kemudian dipindahkan ke tempat Aisyah.
Dikisahkan pula bahwa begitu hebat serangan demam itu sehingga Muhammad merasa seperti terbakar. Hal ini menunjukkan bahwa Muhammad -meskipun dipilih Allah menjadi Rasul-Nya-tetaplah seorang manusia biasa. Ia punya perasaan sedih dan gembira sebagaimana manusia biasa. Ia juga merasakan sakit secara normal. Untuk mengurangi rasa panas itu, Muhammad minta disiram dengan "tujuh kirbat" air dari berbagai sumur. "Cukup, cukup...!" katanya.
Rasul merasa sedikit ringan. Ia mengenakan pakaiannya kembali, mengikat kepala, lalu pergi ke masjid. Di atas mimbar, Muhammad mengucap banyak puji syukur kepada Allah, mendoakan para sahabat yang gugur di Uhud, juga banyak lagi memanjatkan doa yang lain. Saat itu pula, Muhammad menegaskan agar semua mendukung Usama untuk melaksanakan misi yang telah direncanakan. "Dia sudah pantas memimpin seperti ayahnya dulu juga pantas memimpin."
Rasul juga mengatakan bahwa "Seorang hamba Allah oleh Tuhan telah disuruh memilih antara di dunia ini atau di sisi-Nya, maka ia memilih di sisi Tuhan." Muhammad lalu terdiam. Ia tidak menyebut siapa hamba yang diminta Tuhan untuk memilih itu. Hadirin pun terdiam. Sejenak suasana masjid menjadi senyap. Baru kemudian Abu Bakar memecah keheningan dengan tekadnya untuk menebus jiwa Muhammad dengan jiwa kami dan anak-anak kami. Abu Bakar tahu, yang dimaksud "hamba Allah" oleh Muhammad adalah Muhammad sendiri.
"Sabarlah, Abu Bakar," hibur Muhammad. Dengan bersusah payah ia lalu meninggalkan masjid. Namun, sebelum pulang, ia sempat berpesan agar kaum Muhajirin terus menjaga Anshar.
Usama dan pasukannya masih menunggu di Madinah. Keadaan Rasul semakin parah. Untuk menjadi imam masjid, Muhammad minta agar orang-orang menghubungi Abu Bakar. Aisyah -putri Abu Bakar-protes karena suara ayahnya terlalu pelan untuk menjadi imam, dan sering menangis saat membaca ayat-ayat Quran. Namun Rasul tetap minta agar Abu Bakar yang menjadi imam. Ketika terdengar suara Umar yang keras mengimami salat di masjid, Rasul berkata: "Mana Abu Bakar?" Belakangan, banyak orang percaya, bahwa kejadian tersebut adalah isyarat Rasul agar kaum Muslimin memilih Abu Bakar sebagai penggantinya kelak.
Begitu parah keadaan Muhammad. Ia sempat pingsan beberapa lama. Rasul juga minta istrinya agar menyedekahkan uang miliknya yang cuma tujuh dinar. Ia tak ingin meninggal dengan masih memiliki kekayaan -betapapun sedikit-- di tangan.
Demam Rasul tampak mereda. Dengan kepala diikat, dan ditopang oleh Ali bin Abu Thalib dan Fadzil bin Abbas, Rasul ke masjid. Abu Bakar yang tengah menjadi imam menyisih untuk memberi tempat pada Muhammad. Namun Muhammad mendorong Abu Bakar untuk terus menjadi imam. Ia salat sambil duduk di sebelah kanan Abu Bakar.
Orang-orang gembira. Muhammad telah menunjukkan tanda-tanda sembuh. Usama segera pamit pada Rasul untuk melaksanakan ekspedisinya. Namun, kemudian, hari itu tiba. Di musim panas, yang diperkirakan tanggal 8 Juni 632, Rasulullah wafat di pangkuan Aisyah. Diriwayatkan, hari itu Muhammad meminta diambilkan air dingin. Ia mengusap wajah dengan air itu, lalu bersiwak. Menurut Aisyah, Rasul sempat berdoa untuk dimudahkan dalam menghadapi sakaratul maut. Kemudian tubuhnya terasa memberat.
Kini pemimpin, sahabat, bahkan kekasih seluruh umat Islam itu menghadap-Nya. Umat terguncang. Umar sempat mengancam akan memotong kaki siapapun yang mengatakan Muhammad meninggal. Namun Abu Bakar mengingatkan semua dengan membacakan ayat Quran, Surat Ali Imran ayat 144: "Muhammad hanyalah Rasul sebagaimana para rasul sebelumnya. Bila ia wafat atau terbunuh, apakah kamu akan berbalik ke belakang?......"
Dua puluh tiga tahun Muhammad menjadi Rasul. Di Madinah, selama 10 tahun -setara dengan dua kali masa jabatan presiden sekarang-Muhammad menjadi pemimpin bangsa. Muhammad pun wafat dengan meninggalkan "keteladanan yang sempurna" untuk menjalani kehidupan. Selebihnya, ia menyerahkan pada setiap muslim -yang seluruhnya telah dibekali Allah dengan nurani dan akal-untuk mengadaptasi keteladanan itu sesuai dengan masa dan situasi yang berbeda-beda.n
Syam. Wilayah ini tampaknya mempunyai tempat yang khusus di hati Rasulullah. Sewaktu kecil, ia pernah dibawa pamannya --Abu Thalib-untuk berdagang ke daerah tersebut. Di waktu muda, ia pernah pergi ke sana untuk menjadi manajer misi dagang milik Khadijah. Setelah menjadi Rasul, ia juga pernah memimpin ekspedisi militer terbesar yang mengarah ke Syam, yakni ekspedisi Tabuk. Kini terpikir kembali oleh Rasul untuk kembali mengirim ekspedisi ke Palestina dan Syam.
Para sahabat pilihan telah ditunjuk Rasul. Ia juga telah mengangkat Usama putra Zaid bin Haritha --anak angkat Rasul yang gugur di pertempuran Mu'ta-untuk menjadi komandan. Sebuah keputusan kontroversial masa itu, karena Usama belum berusia 20 tahun.
Seluruh perlengkapan sudah disiapkan. Kuda-kuda telah siap dipacu. Tiba-tiba Rasulullah jatuh sakit. Terkisahkan bahwa dalam sakitnya, Rasul sulit untuk tidur. Tengah malam, ia lalu keluar rumah dengn ditemani oleh pembantunya, Abu Muwayba. Rasul -menurut kisah ini-pergi ke Baqi' Gharqad, pemakaman muslim di Madinah. Di sana Rasul berdoa untuk orang-orang yang telah wafat, dan seperti berbicara pada para ahli kubur.
Demam Rasul semakin hari semakin bertambah. Namun ia mencoba tetap melakukan aktivitas biasa. Beberapa kisah menyebut bahwa Rasul masih bercanda dengan istrinya, Aisyah, di saat sakit. Namun suatu hari, ketika Muhammad di rumah Maimunah, serangan demam menguat. Muhammad tak dapat berbuat apapun selain berbaring. Ia kemudian dipindahkan ke tempat Aisyah.
Dikisahkan pula bahwa begitu hebat serangan demam itu sehingga Muhammad merasa seperti terbakar. Hal ini menunjukkan bahwa Muhammad -meskipun dipilih Allah menjadi Rasul-Nya-tetaplah seorang manusia biasa. Ia punya perasaan sedih dan gembira sebagaimana manusia biasa. Ia juga merasakan sakit secara normal. Untuk mengurangi rasa panas itu, Muhammad minta disiram dengan "tujuh kirbat" air dari berbagai sumur. "Cukup, cukup...!" katanya.
Rasul merasa sedikit ringan. Ia mengenakan pakaiannya kembali, mengikat kepala, lalu pergi ke masjid. Di atas mimbar, Muhammad mengucap banyak puji syukur kepada Allah, mendoakan para sahabat yang gugur di Uhud, juga banyak lagi memanjatkan doa yang lain. Saat itu pula, Muhammad menegaskan agar semua mendukung Usama untuk melaksanakan misi yang telah direncanakan. "Dia sudah pantas memimpin seperti ayahnya dulu juga pantas memimpin."
Rasul juga mengatakan bahwa "Seorang hamba Allah oleh Tuhan telah disuruh memilih antara di dunia ini atau di sisi-Nya, maka ia memilih di sisi Tuhan." Muhammad lalu terdiam. Ia tidak menyebut siapa hamba yang diminta Tuhan untuk memilih itu. Hadirin pun terdiam. Sejenak suasana masjid menjadi senyap. Baru kemudian Abu Bakar memecah keheningan dengan tekadnya untuk menebus jiwa Muhammad dengan jiwa kami dan anak-anak kami. Abu Bakar tahu, yang dimaksud "hamba Allah" oleh Muhammad adalah Muhammad sendiri.
"Sabarlah, Abu Bakar," hibur Muhammad. Dengan bersusah payah ia lalu meninggalkan masjid. Namun, sebelum pulang, ia sempat berpesan agar kaum Muhajirin terus menjaga Anshar.
Usama dan pasukannya masih menunggu di Madinah. Keadaan Rasul semakin parah. Untuk menjadi imam masjid, Muhammad minta agar orang-orang menghubungi Abu Bakar. Aisyah -putri Abu Bakar-protes karena suara ayahnya terlalu pelan untuk menjadi imam, dan sering menangis saat membaca ayat-ayat Quran. Namun Rasul tetap minta agar Abu Bakar yang menjadi imam. Ketika terdengar suara Umar yang keras mengimami salat di masjid, Rasul berkata: "Mana Abu Bakar?" Belakangan, banyak orang percaya, bahwa kejadian tersebut adalah isyarat Rasul agar kaum Muslimin memilih Abu Bakar sebagai penggantinya kelak.
Begitu parah keadaan Muhammad. Ia sempat pingsan beberapa lama. Rasul juga minta istrinya agar menyedekahkan uang miliknya yang cuma tujuh dinar. Ia tak ingin meninggal dengan masih memiliki kekayaan -betapapun sedikit-- di tangan.
Demam Rasul tampak mereda. Dengan kepala diikat, dan ditopang oleh Ali bin Abu Thalib dan Fadzil bin Abbas, Rasul ke masjid. Abu Bakar yang tengah menjadi imam menyisih untuk memberi tempat pada Muhammad. Namun Muhammad mendorong Abu Bakar untuk terus menjadi imam. Ia salat sambil duduk di sebelah kanan Abu Bakar.
Orang-orang gembira. Muhammad telah menunjukkan tanda-tanda sembuh. Usama segera pamit pada Rasul untuk melaksanakan ekspedisinya. Namun, kemudian, hari itu tiba. Di musim panas, yang diperkirakan tanggal 8 Juni 632, Rasulullah wafat di pangkuan Aisyah. Diriwayatkan, hari itu Muhammad meminta diambilkan air dingin. Ia mengusap wajah dengan air itu, lalu bersiwak. Menurut Aisyah, Rasul sempat berdoa untuk dimudahkan dalam menghadapi sakaratul maut. Kemudian tubuhnya terasa memberat.
Kini pemimpin, sahabat, bahkan kekasih seluruh umat Islam itu menghadap-Nya. Umat terguncang. Umar sempat mengancam akan memotong kaki siapapun yang mengatakan Muhammad meninggal. Namun Abu Bakar mengingatkan semua dengan membacakan ayat Quran, Surat Ali Imran ayat 144: "Muhammad hanyalah Rasul sebagaimana para rasul sebelumnya. Bila ia wafat atau terbunuh, apakah kamu akan berbalik ke belakang?......"
Dua puluh tiga tahun Muhammad menjadi Rasul. Di Madinah, selama 10 tahun -setara dengan dua kali masa jabatan presiden sekarang-Muhammad menjadi pemimpin bangsa. Muhammad pun wafat dengan meninggalkan "keteladanan yang sempurna" untuk menjalani kehidupan. Selebihnya, ia menyerahkan pada setiap muslim -yang seluruhnya telah dibekali Allah dengan nurani dan akal-untuk mengadaptasi keteladanan itu sesuai dengan masa dan situasi yang berbeda-beda.n
Subscribe to:
Posts (Atom)